oleh

Akui Bersalah atas Tuduhan Terorisme, Pria Hong Kong Dipenjara 6 Tahun

(KD) – Pihak berwenang Myanmar akan menindak operasi penipuan online di perbatasan dengan Thailand setelah pembicaraan mengenai kerja sama militer antara kedua negara, kata media pemerintah pada hari Kamis (28/12).

Kompleks-kompleks penipuan telah menjamur di wilayah perbatasan Myanmar yang lemah pengawasan hukumnya. Pelakunya adalah orang-orang dari China atau dari negara-negara lain yang menjadi korban perdagangan orang. Mereka dipaksa bekerja untuk menipu orang-orang di negara asal mereka.

Dalam beberapa pekan terakhir, junta mengatakan telah menangkap sejumlah pemimpin kelompok penipuan dari daerah sebuah kantong yang dikelola milisi di perbatasan dengan China dan mendeportasi ribuan warga negara China dalam tindakan keras terhadap industri bernilai miliaran dolar tersebut.

Pemimpin Junta Min Aung Hlaing dan Letnan Jenderal Jakkapong Janpengpen dari angkatan bersenjata Thailand membahas kerja sama antara militer mereka pada pertemuan pada hari Rabu, kata media pemerintah. “Mereka juga membahas rencana untuk bersama-sama memberantas perjudian online dan penipuan online di dekat Myawaddy” di perbatasan Myanmar-Thailand, menurut Global New Light of Myanmar.

Kota Myawaddy dikendalikan oleh milisi yang berpihak pada militer dan para analis serta laporan media mengatakan daerah sekitarnya adalah sarang produksi narkoba dan jaringan penipuan online.

Kantor berita AFP telah menghubungi militer Thailand untuk meminta komentar mengenai pertemuan tersebut.

Awal tahun ini kantor urusan HAM PBB mengatakan setidaknya 120.000 orang terjebak dalam kompleks-kompleks penipuan di Myanmar.

Banyak dari mereka tinggal di kota Laukkai di negara bagian Shan, yang menjadi lokasi serangan aliansi kelompok-kelompok etnis minoritas bersenjata terhadap militer.

Pertempuran telah berkecamuk di sekitar kota itu selama berminggu-minggu dan ribuan penduduknya telah mengungsi.

Ratusan warga Thailand dan Vietnam yang bekerja di kompleks penipuan di Laukkai telah dievakuasi dalam beberapa pekan terakhir. [Red] #VOA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *