oleh

Profil Golkar: Mengubah Citra Warisan Orba Jadi Partai Pilihan Generasi Muda

Dinamika politik Indonesia tidak terlepas dari kehadiran Partai Golongan Karya (Golkar), yang lahir pada 1964 sebagai respons terhadap pengaruh Partai Komunis Indonesia. Didirikan oleh mendiang Presiden Suharto dan Suhardiman, Golkar berhasil menjadi salah satu kekuatan politik tertua yang masih eksis hingga saat ini.

Pasca reformasi, elektabilitas partai berlambang pohon beringin itu mengalami pasang surut. Hal itu tak lepas dari citranya yang lekat dengan tampuk kekuasaan rezim Orde Baru. Dalam beberapa kali gelaran pesta demokrasi, Golkar bahkan harus berpuas diri berada di bawah posisi partai-partai yang baru lahir, seperti Demokrat dan Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Namun, harus diakui bahwa Golkar masih tak tergoyahkan dalam lingkaran partai tiga besar.

Golkar sendiri tak tinggal diam dan terus melakukan sejumlah terobosan untuk mempertahankan elektabilitasnya dengan mengikis kesan sebagai partainya penguasa. Dikutip dari situs website Golkar, partai tersebut bahkan mendeklarasikan dirinya sebagai partai politik modern yang tidak lagi menjadi mesin pemilu atau alat politik untuk melegitimasi kekuasaan.

Mahasiswa memegang bendera Partai Golkar yang dibakar dengan tulisan "bubarkan Golkar" saat demonstrasi di Jakarta 18 Mei 1999 usai reformasi. (Foto: Reuters)
Mahasiswa memegang bendera Partai Golkar yang dibakar dengan tulisan “bubarkan Golkar” saat demonstrasi di Jakarta 18 Mei 1999 usai reformasi. (Foto: Reuters)

Mempertahankan elektabilitas

Hegemoni Golkar dalam pemilihan umum (pemilu) berakhir pada saat pesta demokrasi lima tahunan kembali digelar usai Presiden Soeharto lengser pada 1999. Saat itu Golkar harus legowo di posisi runner up. Mengutip data Statistik Badan Pusat Statistik, ‘si beringin’ hanya berhasil meraup 23.675.511 suara (25,97 persen) atau 120 kursi di parlemen. Artinya Golkar kehilangan 205 kursi dibandingkan Pemilu 1997. Saat itu, Partai PDI Perjuangan (PDIP) keluar menjadi juara dengan mengantongi 33,12 persen.

Namun pada Pemilu 2004, Golkar kembali menunjukkan taringnya dengan berhasil meningkatkan elektabilitas dengan raihan 23,09 persen. Tak bertahan lama, Golkar hanya berhasil bertengger di posisi kedua setelah Partai Demokrat pada Pemilu 2009. Saat itu Golkar meraih dukungan sebesar 14,45 persen atau 14.576.388 suara.

Golkar kembali menduduki peringkat kedua setelah PDIP pada Pemilu 2014 dengan 18.424.715 atau 14,75 persen suara. Namun pada Pemilu 2019 posisi Golkar melorot ke peringkat ketiga disalip PDIP dan Gerindra lewat peraihan suara sebanyak 12,31 persen.

Umar Bakry, pendiri Lembaga Survei Nasional (LSN). (Foto: Dok Pribadi)
Umar Bakry, pendiri Lembaga Survei Nasional (LSN). (Foto: Dok Pribadi)

“Ini suatu pukulan telak sebagai penguasa Orba,” ujar Umar Bakry, pendiri Lembaga Survei Nasional (LSN).

Sigi yang dilakukan oleh lembaga survei Indikator Politik Indonesia pada 20 Januari 2024 memproyeksikan komposisi pemenang tiga besar dalam Pemilu 2024 kemungkinan tidak bergeser dari perolehan 2019. Golkar diperkirakan akan kembali menduduki posisi ketiga, di bawah PDIP dan Gerindra, dengan mengantongi suara sekitar 11,2 persen.

Proyeksi raihan Pilpres 2024 tersebut hampir serupa dengan hasil jajak pendapat yang dilakukan Kompas pada Desember 2023 yang menyatakan Golkar diperkirakan akan menempati urutan ketiga setelah PDIP dan Gerinda, dengan suara sekitar 8 persen.

Partai Anak Muda

Saat ini, Golkar berambisi untuk meningkatkan elektabilitas dengan terus melakukan perubahan besar-besaran. Salah satunya adalah dengan menunjukkan citra yang lebih segar dan relevan dengan generasi muda. Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartato pada 21 Oktober menegaskan bahwa Golkar memang terus melakukan kaderisasi dan berkomitmen untuk mendidik kader di bawah usia 40 tahun.

Airlangga yang juga menjabat sebagai menteri koordinator perekonomian mengklaim Partai Golkar berhasil mencetak 20 orang kepala daerah yang usianya di bawah 40 tahun pada saat ini.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartato dalam tangkapan layar.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartato dalam tangkapan layar.

“Kalau generasi muda tidak kita bawa ke pemerintahan, siapa yang akan menyiapkan mereka ke depan,” kata Airlangga.

Presiden Joko Widodo melayangkan pujiannya terhadap Golkar dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-59 pada 6 November 2023. Ia menyebut Golkar sebagai partai yang sangat memperhatikan pemikiran dan semangat generasi muda. Golkar juga dipuji karena berhasil menjalankan proses kaderisasi dan regenerasi.

Jokowi pada saat itu mengatakan Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada 2030, di mana 68 persen penduduknya akan berusia produktif pada saat itu.

“Artinya generasinya generasi muda, pemikirannya didominasi pemikiran anak-anak muda, dan semangatnya juga didominasi semangat anak muda……Partai Golkar sebagai salah satu besar partai indonesia kelihatannya memiliki kepekaan soal ini,” ujarnya.

Seorang pendukung Partai Golkar berdoa saat kampanye di Makassar, Sulawesi Selatan, 21 Maret 2009. (Foto: REUTERS/Supri)
Seorang pendukung Partai Golkar berdoa saat kampanye di Makassar, Sulawesi Selatan, 21 Maret 2009. (Foto: REUTERS/Supri)

Partai Golkar memang berharap dapat menjadi magnet bagi anak muda. Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilihan Umum (Bappilu) Pusat DPP Golkar M. Arieh Pahlevi, sebagai dikutip dari Antara, pada 23 November mengatakan partai tersebut membidik anak muda untuk dapat mendulang suara pada rangkaian Pemilu 2024.

Selain menampilkan citra sebagai partai anak muda, Umar Bakry juga berpendapat Golkar mulai mendekati sosok-sosok beken untuk meningkatkan elektabilitas. Sosok-sosok tersebut di antaranya putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, yang tidak hanya menjadi calon wakil presiden yang diusung Golkar, tetapi juga digadang-gadang sebagai pemimpin partai di masa depan.

Pendukung Partai Golkar Indonesia menutupi wajah mereka dengan lambang partai pada kampanye di Surabaya, Jawa Timur pada 31 Maret 2004. (Foto: REUTERS/Sigit Pamungkas) ​
Pendukung Partai Golkar Indonesia menutupi wajah mereka dengan lambang partai pada kampanye di Surabaya, Jawa Timur pada 31 Maret 2004. (Foto: REUTERS/Sigit Pamungkas)

“Kalau Golkar nggak ambil strategi canggih untuk raih kaum muda, maka lewat. Gibran sebagai strategi yang efektif dan efisien. Apalagi di balik Gibran, ada sosok Jokowi,” tegasnya.

Namun, imbuhnya, selama Gibran belum memutuskan untuk berlabuh ke partai yang identic dengan warna kuning itu, maka Golkar belum bisa mengambil keuntungan dari situasi ini.

Meski Golkar terlihat gencar menggaungkan soal generasi muda, Umar beranggapan langkah tersebut sedikit terlambat saat ini.

Duet Prabowo-Gibran

Golkar ikut serta dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, pasangan calon nomor 02. Melibatkan Prabowo yang mewakili kelompok usia tua dan Gibran sebagai wajah muda, hal tersebut seiring sejalan dengan kebijakan Golkar yang sedang fokus memperoleh dukungan dari generasi muda. Keikutsertaan Gibran bukan hanya sekadar representasi anak muda, tetapi juga mencerminkan usaha Golkar dalam membangun hubungan dengan pemilih muda.

Calon presiden Prabowo Subianto, kiri, berjabat tangan dengan pasangannya Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Indonesia Joko Widodo, di akhir debat calon wakil presiden yang disiarkan televisi di Jakarta, 21 Januari 2024. (Foto: AP )
Calon presiden Prabowo Subianto, kiri, berjabat tangan dengan pasangannya Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Indonesia Joko Widodo, di akhir debat calon wakil presiden yang disiarkan televisi di Jakarta, 21 Januari 2024. (Foto: AP )

Airlangga Hartato mengakui bahwa representasi figur merupakan isu penting dalam keberhasilan memenangkan pemilu.

“Dari pasangan capres dan cawapres yang lain, usianya semua di atas 50. Kita tahu generasi muda merupakan generasi milenial dan generasi Z. Jumlah populasi generasi milenial dan generasi Z adalah 120 juta orang, 53 persen. Sehingga kami berharap Mas Gibran bisa memanfaatkan bonus demografi yang produktif ini,” ujarnya pada 21 Februari 2023.

Seakan ingin mempertegas perbedaan generasi dengan cawapres lain, Gibran tampil mengenakan jaket berlogo serial manga Jepang, Naruto, dalam sesi debat cawapres putaran terakhir pada 21 Januari 2024. Bahkan pada segmen penutupan debat, Gibran juga menyitir istilah yang popular di kalangan muda.

“Tantangan zaman, membutuhkan solusi zaman now. Tantangannya adalah bagaimana kita mencari titik tengah, titik keseimbangan,” katanya.

“Anak-anak zaman now perlu lebih banyak lagi dilibatkan, terima kasih Pak Prabowo sebagai salah satu senior dan teladan yang paling banyak melibatkan anak-anak zaman now,” imbuh Gibran lagi.

Sejumlah sigi yang dilakukan lembaga survei memang menunjukkan pasangan 02 selalu berada di urutan teratas dibandingkan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Yang terbaru, hasil jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 10-11 Januari 2024 kembali menegaskan dominasi pasangan Prabowo dan Gibran. Paslon nomor 2 itu , mengukuhkan posisi mereka sebagai pilihan favorit di kalangan pemilih dengan meraih dukungan hampir 47 persen

Padahal banyak pihak yang masih terus mengangkat isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan penculikan yang terjadi ketika Prabowo masih menjabat sebagai komandan jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada 1998.

“Anak muda sekarang sudah nggak mempan dengan isu HAM, penculikan. Udah nggak ada dalam otak mereka. Udah bukan di dunia mereka. Jadi sia-sia mengangkat isu-isu HAM dalam pilpres tahun ini,” tukas Umar Bakry. [Red]#VOA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *