oleh

Kabinet Israel Tolak Pengakuan Sepihak atas Negara Palestina

Kabinet Israel pada Minggu menyatakan menolak pengakuan sepihak bagi negara Palestina. Kabar ini datang di tengah meningkatnya desakan oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara lain untuk solusi dua negara, seiring memburuknya konflik di Timur Tengah.

(KD) – Kabinet Israel pada Minggu (18/2) menyetujui apa yang disebut sebagai “keputusan deklaratif” yang menentang pengakuan sepihak bagi negara Palestina. Langkah itu dibawa ke sesi pemungutan suara oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

“Israel dengan tegas menolak dekrit internasional tentang pengaturan permanen dengan bangsa Palestina. Pengaturan semacam itu akan dicapai melalui negosiasi langsung kedua belah pihak. Pengakuan semacam itu, setelah pembantaian pada 7 Oktober, akan menjadi semacam hadiah besar bagi teror,” kata Netanyahu.

Dia merujuk pada serangan teroris tahun lalu dimana kelompok militant Hamas membunuh sekitar 1.200 orang dan menahan sekitar 240 orang sebagai sandera.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken (kiri), Presiden Israel Isaac Herzog (kanan) dan anggota delegasinya duduk untuk pertemuan bilateral selama Konferensi Keamanan Munich (MSC) di Munich, Jerman selatan pada 17 Februari 2024. ( Foto: AFP)
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken (kiri), Presiden Israel Isaac Herzog (kanan) dan anggota delegasinya duduk untuk pertemuan bilateral selama Konferensi Keamanan Munich (MSC) di Munich, Jerman selatan pada 17 Februari 2024. ( Foto: AFP)

Pemungutan suara di Kabinet Israel dilakukan sehari setelah Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken bertemu dengan Presiden Israel, Isaac Herzog di sela-sela konferensi keamanan Munich. Meskipun menjadi pendukung kuat bagi negara Yahudi, AS juga sejak lama mendukung solusi dua negara untuk mengakhiri secara permanen konflik di Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan:
“Kami memikirkan penderitaan warga yang terjebak di tengah konflik, termasuk laki-laki Palestina, perempuan dan anak-anak di gaza. Kami juga memikirkan peluang sebenarnya yang terbentang di hadapan kita untuk masa depan yang lebih baik dan lebih aman bagi warga Israel dan Palestina, dan bagi seluruh sahabat kita di kawasan ini.”

Sementara di wilayah perang, warga Palestina pada Minggu terlihat memeriksa kerusakan yang disebabkan oleh serangan Israel di Rafah, dimana penduduk setempat bersiap-siap untuk serangan darat Israel. Sudah lebih dari 28 ribu warga Palestina yang terbunuh dalam perang, menurut kementerian kesehatan Gaza yang dikelola oleh Hamas.

Pejabat kesehatan PBB mengatakan Rumah Sakit Nasser yang merupakan kedua terbesar di Gaza, saat ini “sepenuhnya tidak dapat berfungsi.”

Dan warga di kamp pengungsi Jabaliya di kawasan utara Jalur Gaza menggelar demonstrasi pada Sabtu, memprotes kondisi kekurangan pangan dan obat-obatan.

Salah satu pengungsi, Amer Abou Al-Qumsan, mengatakan bahwa epidemi dan penyakit menyebar di antara orang-orang di Gaza Utara, dimana tidak ada obat-obatan. Jika pun tersedia, kata Amer, warga tidak mampu untuk membelinya.

Kutukan terhadap serangan Israel kencang disuarakan sepanjang akhir pekan lalu dalam KTT Uni Afrika di Addis Ababa.

Algeria diperkirakan akan menyerahkan sebuah rancangan kepada Dewan Keamanan PBB beberapa pekan ke depan, yang meminta gencatan senjata segera di Gaza.

AS sudah menyatakan sikap menolak terhadap draft resolusi itu, dengan alasan bahwa pihaknya lebih memilih jalan keluar lain yang sedang dirintisnya bersama sejumlah pihak, yang di dalamnya akan termasuk setidaknya penghentikan perang selama setidaknya enam pekan dan pembebasan lebih banyak sandera. [Red]#VOA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *