oleh

Pj Bupati Pasuruan Resmikan Gudang Garam Rakyat, Dapat Menampung Hingga 70 Ton

PASURUAN ( KD ) – Gudang Garam Rakyat yang dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Desa Raci, Kecamatan Bangil, akhirnya beroperasi.

Beroperasinya gudang garam tersebut ditandai dengan peresmian oleh Pj Bupati Pasuruan, Andriyanto, Senin (4/3/2024) siang.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan, Alfi Khasanah menjelaskan, gedung garam rakyat ini memiliki luas 7X12 meter persegi. Pembangunannya memakan waktu 56 hari, terhitung 18 oktober-12 desember 2023 dengan anggaran mencapai Rp 229.900.000.

Peruntukannya tak lain hanya untuk menampung garam yang sudah diolah di washing plant. Letaknya persis bersebelahan dengan gudang.

“Kegunaannya seperti bulog. Kalau bulog untuk menyimpan beras, nah kalau gudang garam rakyat ini ya khusus menyimpan garam hasil olahan washing plant,” katanya.

Sebelum diresmikan, gudang garam rakyat di Desa Raci sudah dipergunakan mulai minggu kemarin. Kata Alfi, kapasitasnya bisa menampung hingga 70 ton garam dalam kemasan karung, untuk selanjutnya dikirim ke industri alias perusahaan yang sudah bekerja sama.

“Maksimal 70 ton garam bisa disimpan di gudang garam rakyat ini. Dimasukkan ke dalam karung-karung besar yang nanti siap kirim ke perusahaan yang telah bekerja sama,” jelasnya.

Sementara itu, Pj Bupati Andriyanto berharap dengan beroperasinya gudang garam rakyat di Desa Raci, maka setidaknya dapat memberikan manfaat bagi petambak garam.

Selain itu, garam-garam yang disimpan di gudang tetap terjaga kualitasnya, sehingga stabilitas harga garam senantiasa terjaga.

“Garam rakyat yang disimpan di gudang ini bisa terus terserap dengan baik. Kualitas garam juga tetap terjaga, dan dampak terbesarnya adalah memberikan kesejahteraan bagi para petambak garam,” harapnya.

Saat ditanya perihal prospek pasar garam rakyat, Andriyanto menegaskan peluangnya sangat besar. Terlebih di sekitaran Raci terdapat Kawasan Industri PIER (Pasuruan Industrial Real Estate) yang memiliki luas lahan 560 hektar dan 60% diantaranya membutuhkan garam dengan kualitas baik seperti yang dihasilkan melalui washing plant.

Dari fakta tersebut, garam-garam yang diproduksi di washing plant bisa dijual dengan harga antara Rp 1500-Rp 2000 per kilogramnya, bahkan lebih.

“Secara kasat mata, dijual ke pabrik di Kawasan PIER sebenarnya sudah cukup. Karena jumlah nya juga banyak. Tapi kalau bisa ekspansi, maka ya tambah bagus lagi. Yang terpenting pasarnya sudah ada, dan harga garam juga semakin meningkat,” tutupnya. [Difo/CAS]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *