oleh

ASEAN, Australia Kecam Tindakan Bahayakan Perdamaian di Laut China Selatan

( KD ) – Para pemimpin Asia Tenggara dan Australia pada Rabu (6/3) memperingatkan untuk menghentikan tindakan yang “membahayakan perdamaian” di Laut China Selatan, menyusul konfrontasi baru antara Beijing dan Filipina di perairan yang disengketakan.

Ketegangan yang memuncak di koridor perdagangan itu terancam memuncak pekan ini, setelah kapal-kapal China di Kepulauan Spratly dituduh memburu kapal-kapal Filipina.

Beijing pada Rabu menuduh Amerika Serikat menggunakan Filipina sebagai “pion untuk menimbulkan masalah di Laut China Selatan” sewaktu permusuhan antara negara-negara Asia meningkat karena sengketa wilayah mereka.

China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan sebagai miliknya, mengabaikan preseden hukum dan klaim yang bersaing dari sejumlah negara Asia Tenggara.

Perselisihan yang memburuk ini merupakan salah satu tantangan keamanan yang paling menyorot perhatian di kawasan ini, yang menjadi besar selama pertemuan puncak tiga hari antara Australia dan 10 negara blok ASEAN.

“Kami mendorong semua negara untuk menghindari tindakan sepihak yang membahayakan perdamaian, keamanan dan stabilitas di kawasan,” demikian bunyi deklarasi bersama yang disepakati antara anggota ASEAN dan Australia.

“Kami menyadari manfaat menjadikan Laut China Selatan sebagai lautan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran,” tambah pernyataan itu.

“Saya sangat prihatin dan Australia prihatin atas perilaku tidak aman dan mengganggu stabilitas di Laut China Selatan,” kata Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di sela-sela KTT.

“Kitma perlu emastikan bahwa aktivitas di Laut Cina Selatan dapat meredakan ketegangan dan tidak menambah ketegangan,” tambahnya.

Gencatan Senjata di Gaza

Para pemimpin ASEAN dan Australia juga mendukung upaya baru internasional untuk menjamin gencatan senjata di Gaza, sebuah isu pelik yang memecah belah pendapat secara tertutup.

“Kami mendesak dilakukannya gencatan senjata kemanusiaan segera dan jangka panjang,” kata para pemimpin 11 negara setelah berhari-hari perselisihan diplomatik mengenai perjanjian tersebut.

Menjelang bulan suci Ramadan, Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya telah meningkatkan upaya untuk menghentikan pertempuran.

Singapura menolak pernyataan bersama sebelumnya yang menyertakan kata “ kelaparan” di Jalur Gaza, sebuah bahasa yang akan membuat marah Israel.

Para diplomat juga berdebat mengenai apakah pernyataan tersebut harus menyerukan gencatan senjata total – atau mungkin jeda “kemanusiaan” yang lebih bersifat sementara. [Red]#VOA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *