oleh

Ibu Kota Haiti Usai Kerusuhan, Tenang Tetapi Masih Genting

Penduduk ibu kota Haiti, Port-au-Prince pada abtu (9/3), mengamati kerusakan yang disebabkan oleh pecahnya kekerasan geng terbaru, yang mendorong kelompok bersenjata membakar istana presiden dan menyerang markas polisi.

Lionel Lazarre dari serikat polisi Haiti mengatakan polisi berhasil menghalau serangan tersebut dan beberapa “bandit” terbunuh. Dia mengatakan tidak ada anggota polisi yang termasuk di antara para korban.

Lazarre meminta kepada pihak berwenang untuk memperkuat polisi dalam menghadapi meningkatnya kekerasan.

Seorang reporter kantor berita AFP mengatakan bahwa sejumlah kendaraan yang terbakar tampak teronggok di luar kantor Kementerian Dalam Negeri Haiti dan di jalan-jalan terdekat.

Kondisi kemanusiaan terus memburuk di negara Karibia yang telah lama dilanda masalah tersebut. Sejumlah kelompok bantuan serta lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah memperingatkan akan kekurangan pasokan makanan dan obat-obatan setelah kelompok bersenjata melancarkan kekacauan yang meluas pada pekan lalu.

Para petugas kepolisian berpatroli di tengah kondisi darurat yang masih diterapkan di Haiti karena kekerasan yang meluas di Port-au-Prince, Haiti, Sabtu, 9 Maret 2024. (Foto: Ralph Tedy Erol/Reuters)
Para petugas kepolisian berpatroli di tengah kondisi darurat yang masih diterapkan di Haiti karena kekerasan yang meluas di Port-au-Prince, Haiti, Sabtu, 9 Maret 2024. (Foto: Ralph Tedy Erol/Reuters)

Ketenangan yang masih terasa genting menyelimuti Port-au-Prince pada Sabtu (9/3), ketika penduduk terus meninggalkan pusat kota di mana mobil-mobil yang dibakar pada malam sebelumnya tampak masih membara.

Menurut seorang jurnalis AFP di tempat kejadian, suara tembakan terdengar di seluruh ibu kota pada Jumat (8/3) malam, terutama di distrik barat daya Turgeau, Pacot, Lalue dan Canape-Vert.

Warga bergegas mencari perlindungan. Para saksi mengatakan kepada AFP bahwa mereka telah melihat bentrokan “antara petugas polisi dan bandit” ketika geng-geng tersebut tampaknya mencoba menyita kantor polisi di pusat kota.

Kelompok kriminal yang menguasai sebagian besar Port-au-Prince dan jalan-jalan menuju seluruh negeri telah menyerang infrastruktur penting dalam beberapa hari terakhir, termasuk dua penjara, sehingga sebagian besar dari 3.800 narapidana bisa melarikan diri.

Geng-geng tersebut, bersama dengan sejumlah warga sipil Haiti, menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Ariel Henry. Henry sedianya akan meninggalkan jabatannya pada Februari, tetapi malah menyetujui kesepakatan pembagian kekuasaan dengan oposisi sampai pemilu baru diadakan.

Amerika Serikat (AS) telah meminta Henry untuk segera melakukan reformasi politik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Namun, Henry berada di Kenya ketika kekerasan terjadi dan kini dilaporkan terdampar di Puerto Rico, wilayah AS.

Pada Kamis (7/3), Pemerintah Haiti mengeluarkan keadaan darurat selama sebulan untuk wilayah barat, termasuk ibu kota. Pemerintah Haiti juga menetapkan jam malam hingga Senin (11/3), meskipun sulit untuk melihat bagaimana polisi yang sudah kewalahan dapat menegakkannya.

Sejumlah warga meninggalkan rumah mereka saat bentrokan antara polisi dan anggota geng, di Port-au-Prince, Haiti, Sabtu, 9 Maret 2024. (Foto: Odelyn Joseph/AP Photo)
Sejumlah warga meninggalkan rumah mereka saat bentrokan antara polisi dan anggota geng, di Port-au-Prince, Haiti, Sabtu, 9 Maret 2024. (Foto: Odelyn Joseph/AP Photo)

Warga Port-au-Prince, Fabiola Sanon, mengatakan kepada AFP bahwa suaminya, James, yang berusia 32 tahun, tewas dalam kerusuhan tersebut. Menurut Sanon, James biasanya bangun pagi-pagi untuk mencari uang untuk membeli sarapan bagi putra mereka sebelum mengantarnya ke sekolah.

“James tidak pernah punya masalah dengan siapa pun,” kata Sanon. “Dia penjual rokok biasa.”

Lazarre, juru bicara serikat polisi, memperingatkan bahwa polisi berada di ujung tanduk dan membutuhkan bantuan segera.

“Komando tinggi harus menyediakan sarana dan perlengkapan kepada agen sehingga mereka dapat mengkonsolidasikan gedung polisi dan infrastruktur penting lainnya,” kata Lazarre kepada AFP, Sabtu (9/3).

Bandara Haiti masih ditutup pada Jumat (8/3). Sementara itu pelabuhan utama – yang menjadi sumber utama masuknya impor makanan – menyebutkan adanya penjarahan sejak bandara tersebut menghentikan layanan pada Kamis (7/3), meski ada upaya untuk membangun batas-batas keamanan.

“Jika kita tidak dapat mengakses kontainer-kontainer tersebut (yang penuh dengan makanan), Haiti akan segera mengalami kelaparan,” LSM Mercy Corps memperingatkan dalam sebuah pernyataan.

Aliansi negara-negara Karibia, CARICOM, telah memanggil utusan dari Amerika Serikat (AS), Prancis, Kanada dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menghadiri pertemuan pada Senin (11/3) di Jamaika untuk membahas pecahnya kekerasan. [Red]#VOA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *