oleh

Banjir Rendam Sebagian Besar Jawa Tengah, Pemerintah Galakkan Modifikasi Cuaca

( KD ) Serangkaian bencana hidrometeorologi basah akibat cuaca ekstrem melanda daerah-daerah di wilayah Pantai Utara Jawa Tengah dalam dua minggu terakhir. Selain menimbulkan kerusakan dan memaksa puluhan ribu orang mengungsi, bencana banjir, tanah longsor, hujan lebat dan puting beliung yang timbul juga menelan korban jiwa.

Banjir bandang di Pekalongan, Jawa Tengah, pada Rabu (13/3) malam, yang terjadi akibat jebolnya fasilitas penampungan air, menewaskan dua warga yang hanyut bersama rumah yang mereka tinggali. Hujan sangat lebat yang memicu banjir lain juga merendam tiga kecamatan di Kota Pekalongan dan memaksa 572 warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Banjir juga melanda 24 desa di kabupaten Kendal. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, tetapi sebanyak 10.835 kepala keluarga atau 24.286 jiwa ikut terdampak. Mengingat warga menolak mengungsi dan tetap memilih tinggal di rumah mereka meskipun terendam banjir antara 10-60 sentimeter, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Sosial mendirikan dapur umum di banyak tempat sehingga dapat memasok nasi bungkus bagi warga.

Sementara itu, banjir juga mengepung Kota Semarang. Jalur transportasi darat – terutama Jalan Raya Kaligawe yang menghubungkan Semarang dan Demak-Surabaya – sempat lumpuh total pada Kamis (14/3) lalu karena terendam air setinggi 80 sentimeter.

Stasiun Tawang Semarang juga terendam hingga ketinggian 10 sentimeter di atas rel sehingga beberapa layanan kereta api terpaksa dibatalkan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Semarang Endro Pudyo Martanto mengatakan banjir itu dipicu oleh hujan intensitas tinggi dalam durasi cukup lama, dari siang hingga malam hari. Bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Dinas Pekerjaan Umum, pihak berwenang telah mengaktifkan pompa-pompa untuk menguras genangan air.

Sedikitnya 158.137 warga di 40 kelurahan dalam enam wilayah administrasi kecamatan di Kota Semarang ikut terdampak banjir.

Tim gabungan mengevakuasi warga terdampak banjir di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada 15 Maret 2024. (Foto: Courtesy of BPBD Kota Semarang)
Tim gabungan mengevakuasi warga terdampak banjir di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada 15 Maret 2024. (Foto: Courtesy of BPBD Kota Semarang)

Demak yang dikenal sebagai “Kota Wali” juga terendam banjir setelah hujan dengan intensitas tinggi menyelimuti kota itu sepanjang minggu lalu. Sedikitnya 43.298 warga terdampak dan 499 lainnya terpaksa diungsikan setelah ketinggian air mencapai 100 sentimeter. Kecamatan Mranggen yang sebelumnya aman dari banjir, kali ini ikut terendam karena jebolnya tanggul Sungai Dombo di desa Menur.

“Banjir kiriman” yang datang dari hulu Sungai Lusi di wilayah timur dan air dari sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Kendeng Utara juga merendam wilayah kabupaten Grobogan. Sejumlah ruas jalan protokol nyaris tak berfungsi dan mengganggu aktivitas warga. Sedikitnya 48 desa di 12 kecamatan terdampak oleh banjir tersebut.

Di sisi lain, banjir dengan ketinggian antara 10 hingga 60 sentimeter juga merendam 16 desa di lima wilayah kecamatan di Kabupaten Kudus, termasuk 1.500 hektare sawah dan lebih dari 150 unit rumah. Sekitar 13.102 jiwa terdampak banjir akibat hujan intensitas sangat tinggi ini.

Warga di Demak, Jawa Tengah, dievakuasi akibat banjir yang menerjang wilayah tersebut pada 14 Maret 2024. (Foto: Courtesy of BPBD Kota Demak)
Warga di Demak, Jawa Tengah, dievakuasi akibat banjir yang menerjang wilayah tersebut pada 14 Maret 2024. (Foto: Courtesy of BPBD Kota Demak)

Cuaca ekstrem di Jawa Tengah juga berdampak pada kabupaten Pati dan Jepara di mana banjir hingga setinggi 80 sentimeter melanda wilayah tersebut. Sebanyak 2.383 kepala keluarga di 26 desa terdampak, sementara 639 hektare lahan pertanian tak lagi bisa dikelola. Selain akibat hujan intensitas tinggi, banjir di Pati ditengarai berasal dari lereng Gunung Kendeng yang tidak pernah mengalami bencana seperti ini sebelumnya.

Di Jepara sendiri, banjir dengan cepat merendam wilayah kabupaten tersebut, tetapi dengan cepat pula surut. Sebagian warga sudah mulai membersihkan rumah dari puing-puing dan lumpur pada hari Minggu (17/3). Sementara sebagian warga lainnya menambal tanggul yang jebol dengan kantong-kantong pasir dan bahan lain.

BNPB Lanjutkan Operasi TMC

Dalam upaya mengatasi serangkaian bencana hidrometeorologi basah akibat cuaca ekstrem di Pantai Utara Jawa itu, Badan nasional penanggulangan Bencana (BNPB) sejak pertengahan pekan lalu telah menggelar Operasi Teknoloi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengurangi tingkat curah hujan di wilayah hulu dan hilir.

BNPB menggelar operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Jawa Tengah dalam upaya mengatasi bencana hidrometeorologi yang menerjang wilayah tersebut pada 16 Maret 2023. (Foto: Courtesy of Smart Cakrawala/BNPB)
BNPB menggelar operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Jawa Tengah dalam upaya mengatasi bencana hidrometeorologi yang menerjang wilayah tersebut pada 16 Maret 2023. (Foto: Courtesy of Smart Cakrawala/BNPB)

Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat (DSDD) BNPB, Agus Riyanto, mengatakan seiring keberhasilan operasi TMC sebelumnya, BNPB Bersama BMKG dan lintas kementerian lainnya kembali menggelar operasi TMC hingga Rabu (20/3) mendatang. Operasi TMC yang kedua ini akan dilakukan pada cakupan wilayah yang lebih luas dari operasi pertama, sambil memperhitungkan potensi risiko yang lebih masif.

Operasi TMC kedua melibatkan BNPB, BMKG, BRIN, TNI Angkatan Udara, pemerintah provinsi Jawa Tengah dan sejumlah pihak lainnya. Tiga kali sortie penerbangan dengan pesawat Cesna Grand Carravan menyemai bahan natrium klorida (NaCl), dengan total mencapai tiga ton.

Penerbangan sortie pertama dan kedua mengudara dan menyemaikan bahan NaCl di atas langit perairan utara Jawa Tengah pada ketinggian jelajah 8.000 – 12.000 kaki. Disusul sortie ketiga, yang menyemai bahan NaCl di atas langit Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Pekalongan pada ketinggian jelajah 8.000-12.000 kaki.

Sementara melakukan operasi TMC itu, BNPB, dalam pernyataan tertulis yang diterima VOA, menyerukan warga untuk meningkatkana kewaspadaan dan kesiapsiagaan, terutama potensi datangnya banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, sambaran petir dan pohon tumbang. [Red]#VOA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *