oleh

Antrean Panjang Warnai Pasar Murah Ramadan di Lamongan

LAMONGAN | KD – Suasana Pasar Sidoharjo, Lamongan, Jumat (20/2/2026) pagi, berubah menjadi lautan manusia. Ratusan warga berbondong-bondong datang sejak matahari baru naik, berharap bisa membawa pulang sembako murah dari Operasi Pasar Murah (OPM) yang digelar Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Lamongan.

Antrean panjang terlihat di depan stan penjualan cabai, telur, dan minyak goreng. Beberapa warga bahkan rela menunggu lebih dari satu jam demi mendapatkan paket sembako dengan harga yang lebih ramah di kantong. “Kalau beli di pasar biasa, cabai bisa sampai Rp100 ribu per kilo. Di sini lebih murah, jadi saya rela antre,” kata Siti, salah satu warga yang datang bersama anaknya.

Kegiatan pasar murah ini memang menjadi harapan banyak keluarga menjelang Ramadan. Kenaikan harga bahan pokok dalam beberapa pekan terakhir membuat beban ekonomi semakin terasa. Kehadiran OPM seolah menjadi angin segar bagi masyarakat yang ingin menyiapkan kebutuhan dapur tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

Diskoperindag menyediakan berbagai komoditas, mulai dari cabai, telur, daging ayam, beras, hingga minyak goreng. Minyak goreng yang biasanya dijual di atas Rp16 ribu per liter, di pasar murah ini bisa dibeli seharga Rp15 ribu. Tak heran jika stan minyak goreng menjadi salah satu yang paling ramai diserbu pembeli.

Kepala Diskoperindag Lamongan, Anang Taufik, menuturkan bahwa operasi pasar murah digelar untuk menekan gejolak harga sekaligus menjaga stabilitas inflasi daerah. “Kami ingin masyarakat tetap bisa mengakses kebutuhan pokok dengan harga wajar. Ini bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasar,” ujarnya.

Bagi warga, pasar murah bukan sekadar tempat belanja, melainkan juga ruang kebersamaan. Di tengah antrean, mereka saling berbagi cerita tentang harga-harga di pasar, strategi mengatur belanja rumah tangga, hingga rencana menyambut Ramadan. Suasana hangat itu membuat pasar murah terasa lebih dari sekadar transaksi jual beli.

Dengan antusiasme warga yang begitu tinggi, OPM Ramadan di Lamongan bukan hanya menjadi solusi ekonomi, tetapi juga potret solidaritas masyarakat menghadapi tantangan harga pangan. [NH]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *