LAMONGAN | KD – Lebaran biasanya menjadi momen penuh kehangatan, rumah yang bersih, dan aroma masakan khas yang menggoda. Namun bagi keluarga Sutono di Dusun Dondomaman, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Lamongan, Idulfitri tahun ini berlangsung dalam genangan air.
Sudah empat bulan rumah mereka terendam banjir akibat luapan Bengawan Jero. Hingga Rabu (18/03/2026), air setinggi betis masih mengelilingi rumah sederhana itu. Dapur tak lagi berfungsi, peralatan memasak dipindahkan ke ruang tamu yang lebih tinggi.
“Biasanya menjelang Lebaran kami sibuk bikin kue, sekarang malah sibuk menguras air,” kata Sutono dengan senyum getir.
Meski serba terbatas, istrinya, Sumiati, tetap berusaha menjaga tradisi. Dengan tungku darurat di atas meja kayu, ia membuat jajanan sederhana untuk anak-anak. “Lebaran tanpa jajanan rasanya hambar. Jadi kami usahakan tetap ada, meski seadanya,” ujarnya.
Di tengah kondisi sulit, dua anak Sutono tetap bersemangat belajar. Buku-buku mereka ditaruh di atas papan agar tidak basah. Jika listrik padam, lampu minyak menjadi penerang. “Kalau pompa air bunyi keras, kami berhenti sebentar,” tutur sang putra sulung.
Keluar rumah pun penuh risiko. Jalan beton licin karena lumut, sehingga warga memasang jaring plastik agar ban kendaraan tidak tergelincir. Perjalanan menuju warung atau masjid kini terasa seperti perjuangan, namun solidaritas warga membuat semuanya lebih ringan.
Ekonomi keluarga terpukul akibat tambak dan sawah gagal panen. Meski begitu, Sutono tetap menyalakan semangat. “Lebaran bukan soal pakaian baru atau makanan mewah. Yang penting kami sehat dan bersama,” tegasnya.
Lebaran kali ini menjadi potret ketabahan: merayakan hari kemenangan bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesabaran dan kebersamaan. Di balik genangan Bengawan Jero, keluarga Sutono menunjukkan bahwa harapan tetap bisa tumbuh, meski air belum juga surut. [NH]








Komentar