MAKASSAR | KD – Cuaca panas yang melanda Sulawesi Selatan belakangan ini bukan sekadar perasaan. Fenomena Super El Nino diprediksi kembali memengaruhi pola iklim global, membuat musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dan ekstrem.
Guru Besar Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Prof Nurlina, menjelaskan bahwa Super El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang berdampak luas terhadap cuaca dunia.
“Pemanasan ini mengubah sirkulasi atmosfer dan mengurangi pembentukan awan, sehingga suhu udara meningkat dan kelembapan menurun,” jelasnya, Senin (20/4/2026).
Dampaknya, curah hujan menurun drastis, pasokan air berkurang, dan risiko kekeringan meningkat. Sektor pertanian menjadi yang paling rentan, dengan potensi gagal panen di sejumlah daerah.
Di Sulsel, kemarau mulai terasa lebih awal, terutama di wilayah pesisir seperti Makassar, Gowa, dan Takalar. BMKG Wilayah IV Makassar mencatat suhu udara harian berkisar antara 31–34 derajat Celsius, dengan tutupan awan yang minim sehingga panas terasa lebih menyengat.
Ketua Tim Kerja Bidang Meteorologi BBMKG Wilayah IV, Rizky Yudha, menyebut kondisi ini dipicu oleh berkurangnya awan yang membuat radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi.
“Ada potensi El Nino lemah pada semester kedua tahun ini. Meski tidak sekuat 2023, tetap perlu diwaspadai karena bisa memperpanjang periode kemarau,” ujarnya.
Prakirawan BMKG, Farid, menambahkan bahwa peluang hujan masih ada dalam 1–10 hari ke depan, meski intensitasnya rendah. Wilayah pesisir selatan seperti Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba sudah masuk kategori tanpa hujan menengah, sementara daerah utara seperti Toraja Utara dan Luwu masih berpotensi hujan.
Sementara itu, Nur Asia Utami, Prakirawan BBMKG Wilayah IV Makassar, menegaskan bahwa sebagian wilayah Sulsel masih berada dalam fase pancaroba atau peralihan musim.
“Belum semua wilayah masuk kemarau. Selayar dan sebagian Takalar memang sudah menunjukkan tanda-tanda, tapi wilayah lain masih berpotensi hujan,” katanya.
BMKG memperkirakan awal musim kemarau akan terjadi pada Mei 2026, dengan kemungkinan pergeseran awal musim hujan ke Desember jika El Nino berkembang hingga kategori moderat.
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh gangguan atmosfer di wilayah Pasifik yang mengubah pola angin dan mengurangi pembentukan awan di Indonesia.
“Gangguan di Pasifik menyedot massa udara dari wilayah kita, sehingga awan berkurang dan suhu terasa lebih panas,” jelas Nur Asia.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi, terutama penghematan air dan kesiapan sektor pertanian menghadapi kemarau panjang. Upaya modifikasi cuaca masih mungkin dilakukan, namun sangat bergantung pada keberadaan awan di atmosfer. [D’kawang]








Komentar