NGAWI | KD – Pertemuan audiensi antara perwakilan Koalisi Wartawan dan LSM (KAWAL) Ngawi Ramah dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindik) Kabupaten Ngawi yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Ngawi di Lantai 2 Gedung Sekretariat Daerah (Setda) pada Rabu (26/8/2026) berlangsung dinamis dan sempat diwarnai ketegangan.
Audiensi yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Ngawi, Mokh. Sodiq Tri Widiyanto, M.Si., tersebut menghadirkan Kepala Dindik Ngawi, Kabul Tunggul Winarno. Forum ini digelar guna menindaklanjuti gelombang aspirasi terkait efektivitas pelayanan dan kebijakan publik di lingkungan Dindik Ngawi.
Dalam forum tersebut, perwakilan KAWAL yang terdiri dari unsur insan pers (Budi, Katimin, Heru, Joko, Logant) dan elemen LSM (Warsono, Arifin) menyampaikan lima poin kritikan krusial terhadap kepemimpinan Dindik Ngawi, di antaranya:
-
Penerapan Kebijakan Satu Pintu: Seluruh keputusan dan informasi tertumpu pada Kepala Dinas, sehingga membatasi ruang gerak Kepala Bidang (Kabid) untuk menyelesaikan masalah teknis secara cepat.
-
Penggunaan Ruang Kerja Formal: Kebiasaan menerima tamu kedinasan dan insan pers di warung ketimbang di ruang kerja resmi, yang dinilai kurang proporsional untuk pembahasan isu strategis.
-
Penanganan Kasus Kekerasan Seksual Anak: Minimnya langkah konkret mulai dari upaya preventif, penindakan tegas pelaku, hingga pendampingan psikologis terhadap korban pencabulan di lingkungan sekolah.
-
Apresiasi Atlet Pelajar: Kurangnya perhatian dan alokasi dukungan bagi atlet pelajar berprestasi, khususnya cabang olahraga beladiri seperti MMA, Wushu, Tinju, dan Pencak Silat yang kerap mengharumkan nama daerah.
-
Keterbukaan Informasi Publik: Sulitnya mengonfirmasi isu-isu krusial kepada pimpinan Dindik melalui saluran komunikasi seluler maupun pesan singkat WhatsApp.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dindik Ngawi Kabul Tunggul Winarno menjelaskan bahwa pola satu pintu diterapkan semata-mata untuk memastikan dirinya memantau seluruh dinamika di instansi yang dipimpinnya. Mengenai lokasi penerimaan tamu, ia mengaku lebih nyaman berdiskusi dalam suasana santai. Terkait apresiasi atlet, pihaknya berjanji akan mengupayakan solusi anggaran yang relevan.
Suasana audiensi sempat meninggi tatkala Kabul melontarkan pernyataan mengenai keberadaan “pasukan di 219 desa dan ratusan sekolah” yang siap digerakkan melalui sambungan telepon. Pertanyaan tersebut memicu reaktif dari peserta audiensi yang menilai diksi tersebut kurang patut diucapkan oleh seorang pejabat publik dan ASN.
Melihat kondisi tersebut, Sekda Ngawi Mokh. Sodiq Tri Widiyanto langsung mengambil alih kendali forum dengan pendekatan humanis. Sodiq menegaskan bahwa pernyataan tersebut hanyalah kekurangtepatan pemilihan diksi dan bukan bentuk konfrontasi.
“Pak Kabul hanya salah dalam pemilihan diksi kata-kata. Mari kita bangun komunikasi yang lebih baik demi menjaga kondusivitas Ngawi. Langkah dialogis ini membuktikan bahwa rekan-rekan wartawan dan LSM sangat peduli serta sayang terhadap kemajuan Kabupaten Ngawi,” ujar Sodiq menenangkan suasana.
Merespons arahan Sekda, Kepala Dindik Kabul Tunggul Winarno secara berbesar hati langsung berdiri dari tempat duduknya, melangkah mendekati para peserta audiensi, dan mengulurkan tangan untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Ia berjanji akan segera mengonsolidasikan seluruh catatan dan masukan dari KAWAL bersama jajaran internal Dindik Ngawi guna membenahi pola komunikasi publik serta kualitas pelayanan pendidikan ke depan. [Tim Redaksi]











Komentar