oleh

Kemenkop Gembleng Pengurus KDKMP di Lamongan, Omzet Koperasi Desa Tembus Belasan Juta

LAMONGAN | KD – Menanggapi berbagai kesalahpahaman serta isu miring yang beredar terkait kesiapan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Kementerian Koperasi (Kemenkop) bersama Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Lamongan menegaskan komitmennya dalam memperkuat SDM dan tata kelola koperasi secara profesional.

Langkah nyata tersebut ditunjukkan melalui penyelenggaraan program magang nasional selama delapan hari yang dipusatkan di Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sunan Drajat, Lamongan. Sebanyak 54 pengurus KDKMP dari 31 provinsi diterjunkan langsung untuk mempelajari manajemen koperasi berbasis praktik lapang (on the job training).

Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop, Destry Anna Sari, meluruskan anggapan negatif mengenai operasional KDKMP. Menurutnya, tantangan awal di lapangan bukan indikasi kegagalan, melainkan proses penyesuaian yang dijawab pemerintah dengan meningkatkan kapasitas para pengurusnya.

“Penguatan KDKMP harus dimulai dari SDM. Kami membekali pengurus agar memiliki kompetensi, daya adaptasi, serta jiwa kewirausahaan. Keberhasilan program ini tidak diukur dari seremonial kegiatan, melainkan aksi nyata pengurus saat kembali ke daerah masing-masing,” ujar Destry usai menutup pelatihan KDKMP Sektor Serba Usaha di Lamongan.

Destry menjelaskan, skema magang menggabungkan pembekalan materi komprehensif—mulai dari tata kelola keuangan, kepemimpinan, evaluasi risiko, hingga strategi rantai pasok (circular business)—dengan studi kunjungan langsung ke lapangan.

Senada dengan Kemenkop, Kepala Bidang Perkoperasian Dinkop Perindag Lamongan, Yusup Efendi, meluruskan informasi mengenai status pembangunan KDKMP di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa infrastruktur fisik KDKMP di Lamongan berjalan masif dan terukur.

“Saat ini sudah ada 317 unit KDKMP yang berdiri secara fisik di Lamongan. Untuk tahap awal, 90 unit di antaranya telah beroperasi melayani masyarakat,” jelas Yusup.

Yusup tidak menampik adanya kendala operasional teknis di masa transisi ini. Namun, ia membantah keras narasi provokatif yang menyebut keberadaan KDKMP tidak diminati warga.

Fakta di lapangan justru menunjukkan respons positif dari masyarakat lokal. Pada masa peluncuran awal, salah satu unit KDKMP di Lamongan bahkan mencatatkan omzet hingga Rp14 juta hanya dalam waktu sehari, dengan komoditas paling diminati berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan elpiji.

“Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kebutuhan masyarakat terhadap KDKMP sangat tinggi. Jika jalur logistik dan kelancaran pasokan terjamin, manfaat koperasi ini langsung dirasakan warga,” tegasnya.

Pemerintah optimistis berbagai kendala teknis di lapangan akan teratasi seiring meningkatnya kapasitas pengurus dari hasil pelatihan, sehingga KDKMP dapat menjadi pilar utama penguat ekonomi desa yang sehat dan transparan. [J2]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *