oleh

Angkutan Udara hingga Ayam Tekan Inflasi, BI Sebut Harga di Kaltara Masih Aman

TARAKAN | KD — Laju inflasi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada Agustus 2026 terpantau tetap berada dalam sasaran target nasional. Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kaltara mencatat inflasi daerah berada di angka 0,23 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,17 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Dinamika harga pada bulan ini dipengaruhi oleh penyesuaian tarif angkutan udara pascanormalisasi harga, yang diimbangi dengan penurunan biaya operasional maskapai penerbangan sehingga mampu meredakan beban kenaikan tarif.

Rincian per kota menunjukkan Kota Tarakan mengalami inflasi bulanan sebesar 0,24 persen (2,91% yoy), sedangkan Tanjung Selor mencatatkan inflasi 0,27 persen (1,53% yoy). Tekanan harga utamanya bersumber dari kelompok transportasi laut, komoditas daging ayam ras, serta bawang merah. Meski demikian, pergerakan inflasi berhasil tertahan berkat masuknya masa panen dan penurunan harga pada komoditas beras, tomat, serta cabai merah.

Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltara, Agus Taufik, menyampaikan bahwa stabilitas harga yang terjaga ini merupakan hasil koordinasi erat seluruh pihak di daerah.

“Inflasi Kaltara tetap terjaga di tingkat yang terkendali. Meski ada tekanan dari penyesuaian tarif dan harga pangan, kerja sama seluruh pihak membuat laju tetap dalam sasaran. Ke depan, kita tetap waspada terhadap risiko global dan pasokan pangan daerah, dan TPID siap bersinergi menjaga kestabilan harga,” ujar Agus.

Proyeksi inflasi Kaltara hingga akhir 2026 diperkirakan tetap stabil. Kendati demikian, BI dan pemerintah daerah mengantisipasi sejumlah risiko penekan, seperti ketegangan geopolitik global dan potensi lonjakan permintaan bahan pangan. Di sisi lain, potensi melimpahnya hasil panen serta efektivitas pengendalian pasokan terpadu diharapkan dapat terus menekan laju kenaikan harga.

Guna memastikan kestabilan ekonomi daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltara memperkuat pelaksanaan Strategi 4K:

  • Keterjangkauan Harga: Menggelar pasar murah dan operasi pasar secara berkala di titik-titik krusial.

  • Ketersediaan Pasokan: Memperkuat cadangan pangan daerah dan mengamankan pasokan antarwilayah.

  • Kelancaran Distribusi: Memangkas hambatan rantai pasok dari produsen hingga ke tangan konsumen.

  • Komunikasi Efektif: Memperketat pemantauan harga harian serta mengedukasi masyarakat terkait stabilitas stok.

Langkah terintegrasi ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara yang berkelanjutan. [MT]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *