TARAKAN | KD – Upaya memperkuat pembentukan karakter serta mengantisipasi kompleksitas pergaulan remaja di era digital terus digencarkan dunia pendidikan. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Tarakan menggelar kegiatan Kelas Parenting yang menggandeng Pekerja Sosial (Peksos) Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Tarakan, Alghi Fari Smith, S.ST., di Aula MTs Negeri Tarakan.
Kegiatan bertema “Sinergi Orang Tua dan Madrasah dalam Menghadapi Tantangan Pergaulan Remaja di Era Digital” ini dirancang sebagai ruang diskusi terbuka bagi para orang tua. Langkah tersebut diambil guna meningkatkan pemahaman terkait dinamika psikologis remaja, mengenali potensi risiko sosial, serta memperkokoh kerja sama antara keluarga dan madrasah.
Kepala MTs Negeri Tarakan, Bambang Wahyuono, S.Pd., menegaskan pentingnya kolaborasi aktif dalam mengawal proses tumbuh kembang peserta didik. Menurutnya, keberhasilan pendidikan karakter tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pihak madrasah tanpa dukungan penuh dari lingkungan keluarga.
“Sinergi antara orang tua dan madrasah merupakan kunci utama dalam mendampingi anak menghadapi berbagai tantangan pergaulan modern. Kami mengapresiasi kehadiran para orang tua dan berharap kegiatan ini menjadi awal komunikasi yang semakin erat demi mencetak generasi yang berkarakter dan berprestasi,” ujar Bambang.
Dalam pemaparannya, Alghi Fari Smith, S.ST., yang juga bertindak sebagai Sahabat Saksi dan Korban (SSK) LPSK RI, membedah berbagai tantangan krusial yang kerap dihadapi remaja masa kini. Mulai dari penyalahgunaan narkoba, perilaku seksual berisiko, perundungan (bullying), hingga dampak negatif penggunaan gawai dan media sosial.
Ia mengimbau para orang tua agar senantiasa melakukan deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak di rumah maupun di lingkungan sekolah tanpa bersikap menghakimi.
“Ketika anak menunjukkan perubahan pola komunikasi atau emosi, jangan langsung dihakimi. Bangun komunikasi yang aman dan dengarkan mereka, sehingga kita dapat mendampingi serta memberikan solusi secara tepat,” jelas Alghi di hadapan para peserta.
Selain itu, materi turut menyoroti pentingnya konsep pemenuhan “tangki cinta” anak guna membangun kedekatan emosional yang kokoh di dalam keluarga. Pemenuhan kebutuhan emosional tersebut dapat disesuaikan dengan bahasa kasih masing-masing anak, baik melalui kata-kata afirmasi, waktu berkualitas, hadiah, tindakan pelayanan, maupun sentuhan fisik yang tepat.
Acara yang dikemas secara interaktif ini turut diisi dengan sesi senam otak (brain gym), curah pendapat antarpengasuh, hingga simulasi role playing. Metode partisipatif tersebut diapresiasi para peserta karena membantu mereka merefleksikan pola asuh sehari-hari secara aplikatif.
Melalui kolaborasi strategis antara pihak madrasah dan tenaga profesional sosial ini, MTs Negeri Tarakan berharap para orang tua semakin siap menghadapi tantangan zaman. Diharapkan pula terjalin ekosistem pendidikan yang aman dan suportif, sehingga anak-anak mampu tumbuh menjadi generasi yang tangguh, cerdas secara digital, serta berakhlak mulia. [MT]








Komentar