oleh

Menatap Langit di Sawah Retak: Harapan Petani Barugaya yang Tak Pernah Padam

TAKALAR | KD – Di Desa Barugaya, Kecamatan Polombangkeng Timur, kehidupan sehari-hari petani kini diwarnai rasa cemas. Sawah yang biasanya hijau dan penuh kehidupan berubah menjadi hamparan tanah kering, retak, dan berdebu. Musim tanam yang seharusnya membawa harapan baru justru menghadirkan ketidakpastian.

Setiap pagi, para petani tetap berangkat ke sawah. Mereka memeriksa tanaman padi yang mulai layu, menyiram seadanya dengan sisa air yang ditampung dari musim lalu, lalu duduk di pematang sambil menatap langit. “Kalau hujan tidak turun dalam beberapa hari ke depan, padi bisa betul-betul mati,” ujar seorang warga dengan nada pasrah.

Rutinitas keluarga petani pun ikut terguncang. Anak-anak yang biasanya membantu orang tua menanam padi kini lebih banyak di rumah, karena sawah tidak bisa digarap maksimal. Ibu-ibu desa harus mengatur ulang kebutuhan dapur, menyesuaikan pengeluaran dengan hasil panen yang diprediksi tidak mencukupi. Kehidupan sosial pun berubah: obrolan di warung kopi atau pos ronda selalu berujung pada satu topik – hujan yang tak kunjung datang.

Kondisi ini memperlihatkan betapa rapuhnya ketergantungan masyarakat desa terhadap alam. Minimnya sumber air alternatif membuat mereka tidak punya pilihan selain menunggu turunnya hujan. Sawah kering bukan hanya ancaman bagi padi, tetapi juga bagi keberlangsungan ekonomi keluarga, pendidikan anak, hingga kesehatan masyarakat.

Meski begitu, semangat petani Barugaya tidak sepenuhnya padam. Di tengah keterbatasan, mereka tetap menjaga harapan. Ada yang mencoba menanam palawija sebagai alternatif, ada pula yang berinisiatif membuat sumur kecil meski hasilnya belum maksimal. Namun, bagi sebagian besar petani, doa dan harapan pada langit tetap menjadi satu-satunya pegangan.

Pemandangan sawah kering dengan petani yang berdiri menatap langit menjadi simbol perjuangan dan ketabahan. Kisah Barugaya adalah potret nyata bagaimana keluarga petani bertahan di tengah krisis air, menanti hujan sebagai penentu hidup dan mati bagi padi, sekaligus bagi masa depan mereka. [IRF]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *